Monday, 20 March 2017

SKALA PENGUKURAN

SKALA PENGUKURAN
            Statistika bekerja dengan angka-angka, sedangkan angka-angka tersebut berasal dari perhitungan kuantitas atas suatu objek maupun penilaian yang bersifat kuantitatif atas suatu objek. Dengan demikian maka data yang akan dianalisis dengan statistik harus berbentuk angka-angka. Apabila data yang ditemui belum berbentuk angka (kuantitatif), langkah awal yang harus dilakukan peneliti adalah melakukan perubahan data agar berbentuk angka.
            Angka-angka yang digunakan dalam analisis statistik pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi 4 (empat), yaitu :
  1. Skala Nominal
Skala nominal yaitu angka yang tidak mempunyai arti hitung. Angka yang diterapkan hanya merupakan simbol atau tanda dari objek yang akan dianalisis.
Contoh :
Seorang peneliti menghadapi data yang berkaitan dengan jenis kelamin (perempuan dan laki-laki). Agar peneliti dapat menggunakan statistik dalam analisisnya, dituntut untuk melakukan perubahan data tersebut menjadi bentuk angka. Jika peneliti menggunakan angka 1 sebagai simbol siswa perempuan dan 2 sebagai simbol siswa laki-laki, maka angka 1 dan angka 2 merupakan inisial dari jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Untuk selanjutnya peneliti akan selalu berhadapan dengan angka 1 dan angka 2. Dalam hal ini, angka 2 tidak berarti lebih besar daripada angka 1, karena angka-angka tersebut (angka 1 dan angka 2) hanya sebagai simbol atau kode saja. Sepanjang angka-angka yang digunakan oleh peneliti hanya sebagai simbol, maka angka tersebut dimasukkan sebagai kelompok data yang berskala nominal.  


  1. Skala Ordinal
Skala ordinal adalah suatu skala yang sudah mempunyai daya pembeda, tetapi perbedaan antara angka yang satu dengan angka yang lainnya tidak konstan (tidak mempunyai interval yang tetap).
Contoh :
Hasil ujian akhir suatu SMA menyatakan bahwa : (1) Siswa A sebagai juara 1; (2) Siswa B sebagai juara 2; (3) Siswa C sebagai juara 3; (4) dst.
Dalam hal ini angka 1 mempunyai nilai lebih tinggi daripada angka 2 maupun 3, tetapi skala ini tidak bisa menunjukkan perbedaan kemampuan antara A, B, dan C secara pasti. Juara satu tidak berarti mempunyai kemampuan dua kali lipat dari juara dua maupun mempunyai kemampuan tiga kali lipat dari kemampuan juara tiga. Di samping itu perbedaan kemampuan antara siswa juara 1 dengan siswa juara 2, juga berkemungkinan besar tidak sama dengan perbedaan kemampuan siswa juara 2 dengan siswa juara 3. Dengan demikian maka rentangan kemampuan siswa untuk rentangan kemampuan untuk masing-masing juara tidak selalu sama (tetap), walaupun angka yang dipakai sebagai pengganti mempunyai rentangan yang sama. Penggunaan angka-angka tidak selamanya berpedoman angka yang kecil adalah yang lebih baik, sehingga peneliti dapat menggunakan dasar bahwa angka yang besar adalah yang lebih baik. Mengingat posisi angka sebagai pengganti baik buruk, besar kecilnya suatu data, maka dalam melakukan deskripsi atas hasil analisis statistik harus hati-hati. Sifat konsisten harus dijalankan mulai dari pemberian kode sampai deskripsi.
  1. Skala Interval
Skala interval yaitu suatu skala yang mempunyai rentangan konstan antara tingkat satu dengan yang aslinya, tetapi tidak mempunyai angka 0 (nol) mutlak.
Contoh :
Nilai siswa mempunyai rentangan 0 sampai 10. Temperatur mempunyai rentangan dari 0 sampai 100 celcius, dan lain-lain.
Dalam kasus ini siswa yang memperoleh nilai 8 mempunyai kemampuan 2 kali siswa yang memperoleh nilai 4, panas udara 15 derajat celcius merupakan 0,5 panas udara 30 derajat celcius. Tetapi, siswa yang memperoleh nilai 0 bukan berarti tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang yang diujikan, atau suhu udara berderajat 0 celcius bukan berarti udara tidak bersuhu. Rentangan ini dari jenjang yang satu ke jenjang yang lainnya bersifat konstan (tetap). Sehingga skala ini dapat memberi gambaran tentang objek yang dinilai secara konsisten.

Dalam penelitian pendidikan sering dijumpai pengukuran terhadap objek-objek yang bersifat kejiwaan (psikologi). Untuk mengungkapkan objek-objek ini peneliti biasanya menggunakan alat ukur yang berskala (misalnya skala Likert). Sepanjang analisis skala tersebut didasarkan pada penjumlahan skor untuk setiap item, maka skor yang terkumpul dapat dikategorikan berskala interval.
  1. Skala Ratio
Skala ratio adalah suatu skala yang mempunyai rentangan konstan dan mempunyai angka 0 (nol) mutlak.
Contoh :
Ukuran berat, panjang atau tinggi, umur dan lain-lain. Seseorang yang mempunyai berat badan 100 kg adalah 2 kali lipat beratnya dari orang yang mempunyai berat badan 50 kg. Jika berat suatu benda adalah 0 (nol), maka benda tersebut benar-benar tidak mempunyai berat.
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa angka 0 (nol) mempunyai arti tersendiri yaitu (0 (nol) adalah mutlak adanya). Siswa yang mempunyai tinggi badan 160 cm maka ¾  dari tinggi badannya berarti 120 cm. Jika ada orang tingginya 0 cm, maka orang tersebut nyata-nyata tidak bertinggi badan (walaupun dalam kenyataannya tak ada orang yang mempunyai tinggi badan 0.

            Mengingat masing-masing skala mempunyai arti yang sangat berbeda, maka teknik analisis statistik yang dipakainya (yang sesuai penggunaannya) juga berbeda-beda. Dari keempat skala nilai tersebut, skala ratio mempunyai nilai yang lebih tinggi dari skala nilai yang lainnya. Skala interval menduduki posisi kedua, mengingat kondisi skala interval tidak jauh berbeda dengan skala ratio, maka teknik analisis yang bisa diterapkan pada kedua skala ini adalah sama. Skala nominal mempunyai nilai yang paling lemah. Skala ordinal mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada skala nominal, tetapi skala ini tidak dapat disamakan dengan skala interval. Jika data yang kita hadapi berskala nominal maupun ordinal, maka analisis statistik yang dapat digunakan adalah nonparametrik. Menurunkan skala dimungkinkan, tetapi menaikkan skala tidak dapat dilakukan.

No comments:

Post a Comment